Rabu, Januari 14, 2009
ملخص الرسالة
هدف هذه الرسالة هي العلم بعملية تطبيق ارشاد الديني في السجن الدرحة الثانية أ للنساء بتانجرانج (Lapas Kelas II A Wanita Tangerang) , و أهمية أثره على نضج انفعالي للسجين, ثم العلم بمدى التأثير فيها. بجانب ذلك تهدف الرسالة لعلم فرق الفهم و التطبيق ارشاد الديني الذي يعطي و الفرق لنضج انفعالي بين مجموع السجين المستجيب.
فرق هذه الرسالة برسالات السابقة: في رسالة الماجستر لــ Hannibal بكلية علم النفس جامعة إندونيسية (2007) بموضوع: Rancangan Program Dzikir untuk meningkatkan penerimaan diri narapidana pada Lapas Kelas II A Pemuda Cipinang, تركز على استقبال السجين, مع أن المتغير المستقل ليس ارشاد الديني من السجن (lapas) و لكن طريقة الذكر لطريقة النقشبندية التي تطبق خاصة للسجين. في الرسالة Sahat F. Aritonang, Kajian Ilmu Strategik Ketahanan Nasional UI (2003) بموضوع: Sistem Pemasyarakatan dan Pola Pembinaan Mental Narapidana Kriminal dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pemuda Cipinang, هدف الذي يدرسه السجين هو نفسيته و المتغير الذي يؤثر هو برنامج ارشاد السجين من كل نواحيه.
الرسالة لــ Patta Parang قسم علم الأحكام جامعة إندونيسية (1997) بموضوع: Peran Aktif Petugas Lapas dalam Membina Narapidana, tempat penelitian Lapas Kelas IIA Palu, تركز على كيفية و عملية تطبيق الشخصية حتى ارشاد العمل و النتيجة التي تستخرج من ذلك الإرشاد. الرسالة لــ Sunarto دراسة علم الأحكام جامعة إندونيسية (1996) بموضوع: Peranan Pembinaan terhadap Narapidana di Lapas Tanjung Gusta Medan, التي تدرس دور الإرشاد بكل نواحيه في تغيير و تحسين السجين. الرسالة لــ Dewi Husnul Khotimah من الكلية علم النفس ITB بموضوع: Hubungan Frekuensi Pelaksanaan Shalat Tahajjud dengan Pengendalian Emosi. هذه الرسالة تهدف إلى البحث عن علاقة درجة التطبيق صلاة التهجد مع تحكم الإنفعال. بينما المساواة هذه الرسالة مع الرسالات الأخرى هي المتغير المستقل (ارشاد الديني في السجن) برغم أنه في مختلف مجال البحث. المساواة الأخرى هي من ناحية الهدف, أن هذه الرسالة و الرسالات الأخرى تهدف إلى العلم بمدى التأثير و دور الإرشاد في مساعدة السجين ليكون صحيح النفس و أحسن الحال عند الخروج من السجن.
لوصول الهدف يجمع المعلومات عن طريق الإستبيان من المستجيب و هو السجن المختار لعينة و عددهم 121 سجينا مع طريقة العينة الطباقية (Stratified Sample) 40% من جميع السكان التي عددها 303 نفرا. كمعلومة المساعدة, تقدم الحوار مع الرئيس BINAPI و BIMASWAT و 15 سجينا من ناحية نضج الإنفعالي الضعيف, المتوسط, و العالي.
فالنتيجة هذه الرسالة هي:
1. أهمية التأثير ارشاد الديني على نضج الإنفعالي سجين المرأة في هذا السجن النسائي هي لدرجة 84,9%.
2. فيه تنوع التأثير كل ناحية ارشاد الديني على نضج الإيفعالي السجين, و ذلك يشار بوجود ت الحسالب (t hitung) المختلفة في كل النواحي. ارشاد الموقف و الشخصية الموافق بتعليم الدين هو أعلى جانب التأثير. ارشاد صلاة المفروضة هو الجانب الثاني في التأثير. ارشاد صلاة المسنونة هو الجانب الثالث الذي يؤثر نضج الإيفعالي. ارشاد قراءة القرآن هو الجانب الرابع فث التأثير, ارشاد الصيام هو الجانب الخامس في التأثير, و ارشاد الفن الديني هو الجانب الأصغر في التأثير.
3. فيه فروق الفهم و التطبيق في ارشاد الديني بين خمسة المستجيب, ففي مجمعة الأولى أغلبية السجين في درجة المتوسطة, و في مجموعة الثانية في درجة المتوسطة أيضا, و في مجموعة الثالثة غالبا في درجة عالية, و في مجموعة الرابعة غالبا في درجة متوسطة, و الأخير غالبا في درجة عالية.
4. فيه فروق الفهم لنضج الإنفعالي بين جمسة مجموعة المستجيبة. في مجموعة الأولى أغلبية السجين في درجة نضج الإنفعالي المتوسطة, في مجموعة الثانية غالبا في درجة عالية. في مجموعة الثالثة غالبا في درجة عالية. في مجموعة الرابعة و الخامسة غلبا متوسطة. مدة السجن الطويلة يجعل السجين هادئ الإنفعالي بطريقة إعطاء الإرشاد الديني, و العكس كذالك.
من هذه الرسالة بعرف أن السجن النسائي بتانجرانج قد طبق التدريس و الإرشاد الديني بشكل جيد وفقا على ما فرض لكل السجن.
SINOPSIS BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pria maupun wanita memiliki kemampuan yang sama untuk berbuat jahat atau melakukan tindak kejahatan yang bisa bermuara pada proses hukum di pengadilan dan vonis hukuman penjara. Menurut Frances Heidenson yang mengamati perkembangan kejahatan yang dilakukan wanita Amerika, wanita yang masuk penjara jumlahnya terus meningkat dari tahun 1970 sampai saat ini, dan jumlah peningkatannya terkadang melebihi jumlah pria yang masuk penjara . Begitu pula halnya dengan kejahatan di tanah air, akhir-akhir ini kejahatan perempuan semakin meningkat, salah satu contohnya dapat dilihat dari data jumlah narapidana sebanyak 433 orang yang ada di Lapas Wanita Tangerang. Meningkatnya jumlah tersebut juga disertai dengan bervariasinya jenis kejahatan yang mereka lakukan. Pada saat ini mayoritas kejahatan yang dilakukan oleh para napi yang ada di LP ini adalah seputar narkoba, yaitu sebagai pengedar, bahkan bandar atau pemakai. Jenis kejahatan lainnya adalah pembunuhan, jual beli anak, penipuan, penggelapan atau pemalsuan uang, dan banyak jenis kejahatan lainnya.
Kehidupan di balik terali sangatlah rentan dengan gesekan-gesekan emosional yang mudah menyulut kemarahan dan pertengkaran. Karena setiap individu yang tidur di dalam bui menanggung beban yang tidak ringan di dalam jiwanya dan ini berpotensi besar menuju ketidakstabilan atau ketidakmatangan emosi. Walaupun para napi adalah wanita dewasa yang seharusnya memiliki tingkat kematangan emosi tinggi namun permasalahan hidup bisa saja menyebabkan kematangan emosi mereka menjadi terganggu. Pemberian bimbingan agama merupakan sebuah keharusan yang mutlak dilaksanakan setiap Lapas. Karena agama mampu memberikan ketenangan dan kesadaran meskipun secara perlahan ke dalam hati napi. Namun semua ini sangatlah tergantung kepada manajemen Lapas dalam menjalankan program bimbingan. Figur dan kemampuan mengajar ustadzah yang memberikan bimbingan sangat berpengaruh besar terhadap penerimaan bimbingan yang diberikan. Selain itu kelengkapan sarana dan fasilitas penunjang juga memiliki andil dalam membangkitkan respon dan animo napi untuk senantiasa mengikuti bimbingan.
Sehubungan dengan itu maka penelitian ini mengambil pembahasan tentang : pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi napi di LP Wanita Tangerang.
Pembatasan masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Pelaksanaan bimbingan agama di lingkungan Lapas wanita ini dibatasi pada prosedur pelaksanaan, materi bimbingan, dan pihak yang diajak kerja sama oleh Lapas wanita Tangerang.
2. Tingkat kematangan emosi napi dibatasi hanya pada tingkat kematangan emosi setelah mendapat bimbingan agama.
3. Pengaruh bimbingan agama terhadap tingkat kematangan emosi napi disertai perbedaan pemahaman bimbingan agama dan perbedaan kematangan emosi napi berdasarkan lama masa tahanan.
Sedangkan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “pengaruh bimbingan agama yang diberikan Lapas terhadap kematangan emosi narapidana”.
Sistematika Penulisan
Penulisan dimulai dengan bab I berupa pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, definisi operasional, kajian terdahulu dan sistematika penulisan.
Selanjutnya bab ke dua adalah kajian teori, di dalamnya dibahas tiga poin. Poin pertama adalah bimbingan agama yang mengandung sub poin sebagai berikut : definisi agama, fungsi agama, pengaruh agama terhadap jiwa manusia, urgensi bimbingan agama. Poin ke dua yaitu kematangan emosi yang di dalamnya terdapat subpoin sebagai berikut: definisi emosi, macam-macam emosi, komponen penting emosi, fungsi emosi, kematangan emosi. Subpoin kematangan emosi memiliki tiga subpoin yaitu: definisi kematangan emosi, karakteristik kematangan emosi, faktor yang mempengaruhi kematangan emosi. Poin ke tiga dari kerangka berfikir adalah narapidana wanita yang membahas tentang gambaran umum emosi narapidana dan gambaran umum emosi wanita.
Dilanjutkan dengan bab tiga yang membahas metodologi dan pendekatan penelitian. Dalam metodologi ini akan dikemukakan Definisi Operasional Variabel, Hipotesa Penelitian, Populasi dan sampel, Teknik pengambilan sampel, Prosedur pengambilan data, Instrumen penelitian, Analisa data.
Bab empat mengemukakan tiga poin yaitu poin hasil penelitian, yang memaparkan gambaran umum subjek penelitian, terdiri dari subpoin: sekilas Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang, gambaran umum keadaan narapidana di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang, gambaran umum responden. Poin ke dua adalah deskripsi hasil penelitian memiliki subpoin deskripsi proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA wanita Tangerang, deskripsi materi bimbingan agama yang diberikan di Lapas Kelas IIA wanita Tangerang, deskripsi tingkat kematangan emosi napi setelah mendapatkan bimbingan agama, pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi wanita dewasa terpidana. Poin yang ketiga adalah diskusi hasil penelitian.
Terakhir adalah bab V yaitu penutup. Dalam penutup ini akan terdapat kesimpulan, implikasi dan saran.
SINOPSIS BAB II
KAJIAN TEORI
1. Definisi Bimbingan Agama
Definisi bimbingan
Prayitno dan Erman Amti memaknai bimbingan sebagai pemberian bantuan yang dilakukan orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuannya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada, dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Ide-ide pokok atau pilar-pilar penting yang mendasari terbentuknya sebuah proses bimbingan, yaitu:
1. Proses bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang
2. Bantuan hanya bisa diberikan oleh orang yang ahli di bidang tersebut
3. Pemberian bantuan tidak pilih rentang usia atau jenis kelamin tertentu
4. Pemberian bantuan merupakan proses yang kontinyu dalam rentang waktu tertentu
5. Bertujuan untuk menolong individu yang dibantu agar ia memahami potensi dirinya, mengenali masalahnya, mencari solusi serta menggali makna dari masalah yang dialami, dan mampu mengendalikan hidupnya ke arah yang baik secara mandiri, tidak bergantung pada orang lain
6. Agar individu mampu mencapai hidup yang bahagia dan bermanfaat bahkan juga bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Definisi agama
Secara menyeluruh agama dapat dipahami sebagai suatu dogma, norma, ideologi, ajaran atau semacamnya yang menimbulkan keterikatan jiwa, kepatuhan, ketundukkan, ketaatan terhadap kekuatan yang maha tinggi, atau sumber segala kehidupan yang ada di dunia ini. Ajaran atau keyakinan ini bersifat sangat sakral, dan terwariskan dari generasi ke generasi, sehingga setiap komunitas manusia di dunia ini memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan pengabdian dan kepatuhan tersebut pada zat yang mereka akui sebagai yang maha tinggi. Kekuatan yang diagungkan, yang diyakini bisa menolong manusia saat manusia tidak lagi dapat menolong dirinya sendiri dalam menghadapi problema hidup. Namun agama tidak selalu menjelaskan secara rinci cara atau usaha apa saja yang harus ditempuh manusia agar ia bisa hidup selaras dan seimbang dengan makhluk lainnya dan juga berinteraksi dengan baik terhadap alam, mampu menggali manfaat alam demi kesejahteraan manusia tanpa merusak kestabilan ekosistem yang pada gilirannya akan menhancurkan manusia itu sendiri. Oleh karenanya manusia haruslah menjalankan akalnya agar ia bisa menemukan ide cemerlang dan positif untuk memakmurkan kehidupannya dengan mengambil manfaat dari seluruh potensi yang telah disediakan Tuhan baginya, baik potensi dari dalam dirinya atau dari luar dirinya.
2. Definisi kematangan emosi
Kematangan atau maturitas adalah penggambaran terhadap suatu pergerakan, pertumbuhan dan spontanitas. Kematangan dapat dipahami sebagai suatu standar pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Indikator kematangan emosi yang digunakan dalam penelitian ini:
1) Menguasai stress
2) Rasional
3) Realistis dan qana’ah
4) Sabar yang positif dan optimis
5) Penguasaan rasa marah (termasuk didalamnya cemburu dan sedih)
6) Kemampuan beradaptasi dan kerjasama
7) Sportif terhadap kesalahan dan mengakui kekurangan
8) Kemampuan menyayangi dan mencintai dengan cara wajar
9) Kemampuan menerima dan menghargai perhatian dan kasih sayang orang lain
10) Kemampuan berempati
11) Tanggung jawab
12) Mandiri
13) Kontrol diri
14) Kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan lawan jenis
15) Bijaksana dan objektif dalam penilaian dan pengambilan keputusan
16) Selera humor yang sehat
17) Egosentrisme sosiosentrisme
SINOPSIS BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang bekerja dengan angka yang datanya berujud bilangan (skor atau nilai, peringkat atau frekuensi), yang dianalisa dengan menggunakan statistik untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik, dan untuk melakukan prediksi bahwa suatu penelitian tertentu mempengaruhi variabel yang lain .
Jenis penelitian ini, adalah penelitian eksperimental dengan mengambil model Pengukuran Sesudah Kejadian (PSK). Pada model PSK ini, peneliti tidak memberikan treatment tertentu pada kelompok responden, hanya mengukur kondisi responden sesudah terjadinya suatu treatment tanpa mempermasalahkan treatment tersebut diberikan oleh siapa dan kapan terjadinya.
Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional
A. Bimbingan Agama
Definisi operasional bimbingan agama dalam penelitian ini adalah sebuah proses pemberian bantuan, arahan, tuntunan, mengenai materi keagamaan (dalam hal ini agama Islam), kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan umat beragama, norma-norma hidup yang diatur dalam agama, dimana bantuan ini diberikan oleh orang yang berkompeten di bidang bantuan yang akan diberikan dan ditujukan kepada individu yang membutuhkan dalam rangka menggali dan mengarahkan potensi diri yang dimiliki individu untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama, agar dapat memilih sendiri jalan hidupnya sesuai yang dikehendaki agama, menyelesaikan masalah kehidupan dengan cara yang benar sesuai panduan agama, mandiri dan bertanggung jawab, hingga apa yang dilakukannya bisa bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat di sekitarnya dengan tidak menepikan kode-kode normatif agama.
B. Kematangan emosi
Dalam penelitian ini kematangan emosi didefinisikan sebagai kemampuan narapidana untuk mengekspresikan emosi secara wajar dan benar, menggunakan pertimbangan-pertimbangan rasional dan intelektual, juga menenggang norma sosial, tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi, juga sepadan dengan kebutuhan yang dituntut oleh lingkungan sosial saat itu, dimana kemampuan tersebut tidak memiliki batasan akhir atau bentuk standar yang selalu tetap, karena proses menjadi seorang yang matang adalah proses yang berlangsung selama individu itu masih berinteraksi dengan dunia di luar dirinya. Namun begitu pola luapan emosi individu yang sudah mencapai kematangan tidaklah mudah berubah-ubah atau labil seperti anak-anak.
C. Narapidana
Narapidana merupakan istilah yang diberikan kepada orang-orang yang telah terbukti bersalah secara hukum, dan sudah dijatuhi vonis hukuman berupa kurungan penjara atau hukuman lainnya sesuai dengan pasal dalam undang-undang hukum pidana yang telah dilanggarnya.
Variabel Bebas.
Dinamakan juga variabel yang mempengaruhi, dan dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah bimbingan agama.
Variabel terikat.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kematangan emosi.
Hipotesa penelitian
1. Hipotesa nihil (H0): tidak terdapat pengaruh yang signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana di Lapas wanita Kelas IIA Tangerang
2. Hipotesis alternatif (Ha): terdapat pengaruh yang signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana di Lapas wanita Kelas IIA Tangerang
3. Hipotesa nihil (H0): tidak terdapat perbedaan bimbingan agama pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
4. Hipotesis alternatif (Ha): terdapat perbedaan bimbingan agama pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
5. Hipotesa nihil (H0): tidak terdapat perbedaan kematangan emosi pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
6. Hipotesis alternatif (Ha): terdapat perbedaan kematangan emosi pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
Teknik Pengambilan Sampel.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified sample. sampel dibagi ke dalam kelompok-kelompok, dan di sini ada 5 kelompok tahanan. jumlah sampel dari kelima kelompok pembagian ini: 121 orang atau 40% dari jumlah populasi 303 orang, angka ini didapat dari penyederhanaan bilangan: 40% dari 303 = 121.2
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen: wawancara dan kuesioner. Wawancara ditujukan kepada KASI BINAPI (Ketua Seksi Bimbingan Narapidana) yaitu Ibu Suryati AR, dan KABIMASWAT (Ketua Bimbingan Pemasyarakatan dan Perawatan), yaitu Ibu Endang mengenai pelaksanaan bimbingan agama dan pengaruh yang terlihat pada kematangan emosi napi. Sedangkan kuesioner ditujukan kepada narapidana, yang terbagi dalam dua bagian: pertama, untuk mengukur bimbingan agama, kedua untuk mengukur kematangan emosi.
Instrumen kuesioner dalam penelitian ini adalah berbentuk skala sikap: yaitu skala sikap bimbingan agama terhadap kematangan emosi.
SINOPSIS BAB IV
HASIL PENELITIAN
1. Gambaran umum subyek penelitian
1.1 Sekilas LAPAS Wanita Tangerang
LP Kelas IIA Wanita (LPW) Tangerang didirikan pada tahun 1977 dan difungsikan pada tanggal 5 Februari 1981, merupakan pindahan dari LPW Bukit Duri.
A. Tugas pokok dan fungsi penjara
LPW Tangerang mempunyai tugas untuk melaksanakan pembinaan narapidana wanita.
B. Jumlah petugas
Petugas Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang keseluruhannya berjumlah 110 orang yang terdiri dari 13 orang pejabat struktural, 61 orang petugas keamanan, 26 orang petugas pembinaan dan staf.
C. Kegiatan Pembinaan
Kegiatan pembinaan yang dilakukan di dalam LP Kelas IIA Wanita Tangerang berupa pendidikan dan pengajaran, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum, kursus-kursus keterampilan dan latihan kerja, olahraga dan kesenian.
D. Masalah
Masalah yang dihadapi pihak Lapas Kelas IIA Wanita saat ini adalah terbatasnya dana yang tersedia untuk pembelian obat-obatan, biaya pembinaan, penambahan bangunan gedung.
E. Rencana Program
Peningkatan kegiatan asimilasi dan integrasi merupakan rencana program jangka panjang yaitu untuk membentuk kegiatan baru yang bisa lebih mengakrabkan antar sesama napi dan antara napi dengan para petugas.
1.2 Gambaran umum keadaan narapidana di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang
Jumlah wanita yang mendekam di balik terali besi Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang sebanyak 404 orang.
2. Deskripsi hasil penelitian
2.1 Deskripsi proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA wanita
Pelaksanaan bimbingan agama berlangsung setiap hari dari hari Senin sampai Sabtu, dari jam 10.00 pagi sampai waktu shalat dzuhur. Peserta bimbingan bergantian dari setiap blok. Pengajar atau ustadzah pembimbing juga datang bergantian dari hari Senin sampai Sabtu sesuai jadwal yang telah disusun.
2.2 Deskripsi materi bimbingan agama yang diberikan di Lapas wanita Tangerang
Materi yang diajarkan para ustadzah dan pembimbing adalah mencakup:
1. Belajar wudlu dan shalat.
2. Belajar membaca al Qur’an.
3. Akhlaq mahmudah (terpuji)
4. Shalawat Nabi
5. Do’a-do’a dan surat-surat pendek
2.3 Deskripsi tingkat kematangan emosi napi setelah mendapatkan bimbingan agama
Apabila dilihat taraf kematangan emosi pada tiap indikatornya sangatlah fluktuatif dan cenderung tidak stabil. Namun secara umum dapat dilihat bahwa kondisi kematangan emosi narapidana setelah mendapatkan bimbingan agama.
Kategori Frekuensi %
Tinggi 42 34.71%
Sedang 69 57.03%
Rendah 10 8.26%
Jumlah 121 100 %
2.3 Pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana wanita
Berdasarkan hasil yang telah didapatkan ini, bahwa bimbingan agama yang telah didapatkan napi berpengaruh sebesar 84.9% terhadap kematangan emosi. Dari hasil ini peneliti berkesimpulan terdapat pengaruh yang signifikan dari bimbingan agama terhadap kematangan emosi napi wanita di Lapas Kelas IIA ini. Ini berarti hipotesis nihil (H0) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana ditolak. Dengan demikian hipotesis nihil (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana diterima.
Begitu pula untuk menjawab hipotesis yang kedua tentang perbedaan pemahaman bimbingan agama antar kelompok responden. Hipotesis nihil (H0) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pemahaman bimbingan agama antar kelompok responden berdasarkan lamanya masa tahanan ditolak. Dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kematangan emosi pada narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan diterima.
Mengenai hipotesa tentang perbedaan kematangan emosi antar kelompok responden, didapat hasil bahwa hipotesis nihil (H0) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kematangan emosi pada narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan ditolak. Dengan demikian hipotesis nihil (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kematangan emosi pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan diterima.
SINOPSIS BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Penelitian yang berjudul “Pengaruh Bimbingan Agama Terhadap Kematangan Emosi Narapidana Di Lapas Wanita Kelas II A Tangerang” mendapatkan hasil sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang signifikan yang diberikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana sebesar 84.9%. Berarti (H0) yang menyatakan tidak terdapat pengaruh yang signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana di Lapas wanita Kelas IIA Tangerang ditolak dan (H1) diterima.
Ada enam aspek bimbingan agama yang diberikan, yaitu bimbingan ibadah shalat fardhu, bimbingan ibadah shalat sunnah, bimbingan ibadah membaca al Qur’an, bimbingan ibadah puasa, bimbingan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama, dan bimbingan kesenian yang bersifat agamis. Dari keenam aspek ini dapat diurutkan besarnya pengaruh yang diberikan aspek-aspek tersebut terhadap kematangan emosi:
A. bimbingan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama adalah aspek yang berpengaruh tertinggi dengan t hitung 7.367.
B. Bimbingan ibadah shalat fardhu adalah aspek kedua yang berpengaruh dengan t hitung 6.409.
C. Bimbingan ibadah shalat sunnah merupakan aspek yang ketiga mempengaruhi kematangan emosi napi dengan nilai t hitung 4.987.
D. Bimbingan ibadah membaca al Qur’an merupakan aspek keempat yang mempengaruhi kematangan emosi napi dengan nilai t hitung 4.921.
E. Bimbingan ibadah puasa adalah aspek kelima yang berpengaruh dengan nilai t hitung 4.038.
F. Bimbingan kesenian yang bersifat agamis merupakan aspek terkecil yang mempengaruhi kematangan emosi napi, dengan nilai t hitung 3.572.
2. Terdapat perbedaan antara kelompok responden tentang pemahaman dan pelaksanaan bimbingan agama dengan besar F hitung 6.627.
3. Terdapat perbedaan kematangan emosi antara kelompok responden dengan besar F hitung 5.255.
2. Implikasi
Kesemua aspek tersebut hanya mempengaruhi kematangan emosi narapidana wanita sebanyak 84.9%, itu berarti pengaruh lain di luar aspek-aspek dalam bimbingan agama ini sebanyak 15.1%.
Keberadaan program bimbingan agama merupakan sebuah keharusan yang sudah disahkan Undang-Undang Hukum Pidana. Peraturan yang mengharuskan ini sudah ada sejak 1917 dalam Gestichten Reglement (peraturan kepenjaraan) stbl 708, yang disusun oleh kolonial Belanda.
3. Saran
A. Untuk pihak Lapas. Hendaknya bagian binaan napi membangun ruangan baru pada setiap blok untuk pelaksanaan bimbingan agama, agar para napi tidak perlu pergi ke ruangan bimaswat atau aula untuk menghadiri bimbingan.
B. Untuk narapidana. Hendaknya mengikuti bimbingan agama dengan niat yang bersih dan kesadaran pribadi yang tinggi. Bukan dikarenakan keinginan untuk mendapat remisi, atau karena menyukai ustadzah yang memberikan bimbingan, atau hanya karena bosan di kamar jadi memilih hadir di aula untuk ikut bimbingan padahal hatinya tidak tertarik dengan materi bimbingan itu.
Sekian saran dari peneliti terhadap upaya bimbingan agama yang sudah dilaksanakan di Lapas ini. Semoga tulisan ini benar-benar memberi manfaat yang signifikan terhadap kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan bimbingan agama di Lapas ini pada waktu mendatang.
DAFTAR PUSTAKA TESIS
Abdullah, Zulkarnain, Mengapa Harus Perempuan? Yogya: Ar Razz, 2003
Al Muhasibi, Abdillah, Hidup Tanpa Derita, “Kiat praktis dan Jitu Menata Kinerja Hati dan Akal, Jakarta: Penerbit Hikmah, 2006, Cet. ke 1
Al Munawwar, Said Aqil Husain, Aktualisasi nilai-nilai Qur’ani dalam system pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005 cet. ke 1
Al Qur’an al Karim
Al Sayih, Abdul Raheem, Keutamaan Islam Terj., Jakarta: Pustaka Azzam, 2001
Anderson, Scarvia B.: Encyclopedia of Educational Evaluation, London Joosy: Bass, 1975
Argyle, Michael and Benjamin Beit-Hallahmi, Psychology of Religious Behaviour, Belief and Experience, London: Routledge, 1997, 1st ed.
Arifin, HM., Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta: Terayon Press, 1994), Cet ke 1
Arikunto, Suharsimi, Manajamen Penelitian, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005),
-----------, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), Cet ke 12, hal 186
Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman, Sistem Pemasyarakatan di Indonesia, (Bandung: Penerbit Bina Cipta, 1979)
Bahtiar, Amsal, Filsafat Agama, Jakarta: Logos, 1999
Blood & Blood, Marriage, New York: Macmillan Publisher, 1978, 3rd ed.
Boeree, George, Personality Theories: Melacak Kperibadian Anda Bersama Psikolog Dunia, Terj., Yogyakarta: Primashopie, 2005, Cet. Ke 2
Budiman, Arif, & Abu Bakar Baradja, Mental Sehat Hidup Nikmat, Mental Sakit Hidup pahit, Jakarta: Studia Press
Burhan Nurgiantoro dan Gunawan Marzuki, Statistik Terapan: Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,
Burns, R.B. Konsep diri: teori, pengukuran dan perkembangan perilaku, (terj. Dari judul Asli The Self Concept: Theory, Measurement, Development and Behaviour), Jakarta: Arcan, 1993, Cet 1
Carol L. Rhodes Ph.D. & Norman S. Goldner Ph.D., Why Women & Men Don’t Get Along? Terj. Jakarta: Pustaka Delaprasa, 2001
Carrel, Alexis, Man: The Unknown, Bombay: Willco Publishing House
Chaplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Crapps, Robert W., Perkembangan Kepribadian & Keagamaan Terj., Yogyakarta: Kanisius
Daradjat, Zakiah Prof. Dr., Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: Toko Gunung Agung, 2001, Cet ke 16, hal 13 - 24
Davidoff, Linda L. Psikologi Suatu Pengantar, jilid 2, Terj., Jakarta: Erlangga, 1991
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997, Cet ke 9
Departemen Kehakiman, Sekilas Tentang Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wanita Tangerang, (2002)
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Bandung: CV. Ilmu, 1987, Cet ke 9
Donelson, Elaine, Asih Asah Asuh: Keutamaan Kaum Wanita, Terj., Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990
Duval E. M. Miller B. C. Marriage and Family Development, New York: Row Publisher, 6th ed
Durkheim, Emile, Pendidikan Moral, Suatu Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan, (Terj.) Jakarta: Erlangga, 1990
Eart R. Babie, Survey Research Method, California: Wadswoth Publishing Company, Inc., 1973
Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994,
Faisal, Sanapiah, Format Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), Cet ke 6
Faqih, Aunur Rahim, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, Yogyakarta, UII Press, 2001, Cet. Ke 2
Fontana, David, Psychology, Religion and Spirituality, USA: Blackwell Publishing Ltd., 2003, 1st ed.
Fromm, Erich, Man for Him Self, New York: Holt, Rinehart & Winston, 1947
Garlow L. & Katkovsky W. The Psychology of Adjustment, New York: Mc Graw Hill Inc., 1976, 3rd ed.
Goleman, Daniel, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting Dari IQ., Jakarta: PT. Gramedia, 2004, Cet.ke 14
Greenwood III James W, & Greenwood James Jr, Managing Executive Stress, Canada: John Willey and Sons Ltd, 19791st ed
Gunarsa, Singgih D, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000
Guilford J.P dan Bunyamin Frutcher, Fundamental Statistic in Psychology and Education, Tokyo: Mc. Graw Hill Kogukusha, 1976
Hurlock, Elizabeth, Child Development, (Mc Graw Hill, 1978) 6th ed.
-----------------------, Adolescent Development, (Tokyo: Mc Grow Hill Kagokusha Ltd, 1973)
Ine I. Amiran Yousda dan Zainal Arifin, Penelitian dan Statistik Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1993, cet.I.
Jalaluddin, Psikologi Agama, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1996
Jane C. Ollenburger dan Helen A. Moore, Sosiologi Wanita, Terj. Jakarta: Rineka Cipta, 1996, Cet 1
Jersild AT., Brook JS., Brook DW. The Psycologhy of Adolescence, New York, MacMillan Publishing Co. Inc., 1978
John G. Carlson & Elaine Hatfield, Psychology of Emotion, New York: Harcourt Brace Jovanovich College Pubishers
Kartono, Kartini, Psikologi Anak, Bandung: CV Mandar Maju, 1995) Cet ke 5,
Kaswardi, E.M.K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, Jakarta: PT. Gramedia, 1993
Kerlinger, Fred N. Azaz-azaz Penelitian Behavioral, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000
Kowalski, Mark Larry, The Social Psychology of Emotional & Behavioural Problems, Washington: American Psychological Association, 2002, 1st ed
Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Etika & Pertumbuhan Spiritual, Terj., Jakarta: Penerbit Lentera, 2001, Cet 1
Lazarus, Richard S., Emotion and Adaption, New York: Oxford University Press, 1991
Lone P.& Srhene A., Working Woman: A guide to Fitness and Health, Toronto: The Mosby Co, 1986
Lugo J. & Hersye G, Human Development: Physiological, Biological & Sociological Approach, New York: Macmillan Publishing, 1979 2nd ed
Najati, Muhammad Usman, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Terj. Pustaka Hidayah: Bandung, 2002, Cet. ke 1
-------, M. Usman, Psikologi dalam Pandangan Hadits Nabi, Terj.
Natawijaya, Rahman, Peran Guru Dalam Bimbingan di Sekolah, Bandung: CV Abardin, 1998 Cet ke 1
Nottingham, Elizabeth K., Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Psikologi Agama, Terj., Jakarta: CV Rajawali
Madjid, Nurcholish, Masyarakat Religius, Jakarta: Paramadina 2004, Cet ke 3
Mahmud, Ali Abdul Halim, Fikih Responsibilitas -Tanggung Jawab Muslim Dalam Islam-, Jakarta: Gema Insani Press, 1998, Cet. ke 1
M. Umar dan Sartono, Bimbingan dan Penyuluhan, Bandung: Pustaka Setia, 1998 Cet 1
Mubarok, Ahmad, Jiwa Dalam Al Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2000, cet. ke 1
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. ke 2
Panjaitan, Petrus Irwan, SH. MH., Pandapotan Simorangkir SH, “Lembaga Pemasyarakatan Dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana”, Jakarta: Sinar Harapan, 1995
Pervin, L.A., (ed.), Handbook of Personality; Theory and Research, New York: The Guliford Press, 1990
Philip G. Zimbardo, Fliyd L. Puch, Psychology and Life, USA: Scott, Foresman and Company, 1971, 9th ed
Pikunas, Justin, Human Development: an Emergent Science, Tokyo : Mr. Grow Hill Inc, 1976, 3rd edition
Plutchik, Robert, The Psychology and Biology of Emotion, USA, Harper Colins College, 1994
Poespoprodjo, DR. W. S.H., S.S., B.Ph., L.Ph., Filsafat Moral (Kesusilaan Dalam Teori dan Praktek), Bandung: Pustaka Grafika, 1999
Powell, M. The Psychology of Adolescence, New York: The Bobs-Meril1 Co,1963 2nd ed
Prayitno, dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan Konseling, Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet 1
Puspito, Hendro O.C., Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1998, Soejono
Romly, A. Penyuluhan Agama Menghadapi Tantangan Baru, (Jakarta:PT. Bina Rena Pariwara, 2001), Cet. ke 1
Sax, Albert, Foundation of Educational Research, (New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1979)
Sarwono, Sarlito Wirawan,: Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, Jakarta : Bulan Bintang, 2000, Cet ke 3
Scheineders, Personal Adjustment and Mental Health, New York: Holt Rinerhart and Winson
Schultz, Duan, Psikologi Pertumbuhan: Model-model Keperibadian Sehat Terj., Yogyakarta: Kanisius, 1991
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al Qur’an, Bandung: Mizan, 1998
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES, 1989 Cet ke 2
Smith, Wilfred C. Memburu Makna Agama, Terj. Bandung: Mizan, 2004
Soekanto, Kamus Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993
Strongman KT., The Psychology of Emotion, England,: John Willey & Sons
Ltd, 1996
Sukardi, Dewa Ketut, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional
Suryabrata, Sumadi, Metodelogi Penelitian, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Suparlan, Parsudi, Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing Dalam Masyarakat Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995
Syani, Abdul, Sosiologi : Sistematika, Teori dan Terapan, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002
Wedge, Florence, Mengatasi Rasa Marah, (Terj.), Jakarta: Penerbit Obor, 1989, Cet ke 1
Yusuf, Syamsu, Mental Hygiene, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004, Cet. ke 1
Referensi tesis/disertasi, laporan penelitian
Hasanat, Apakah Perempuan Lebih Depresif dari laki-laki? Laporan Penelitian, Yogyakarta: Fakultas Psikologi, 1994
Matindas, R.W. Dimensi-dimensi Kematangan Pribadi, Disertasi Jakarta: Program Pasca Sarjana UI, 1993
Referensi selain buku dan tesis (CD Room, situs internet
Sahih Bukhari, CD Room: Mausu'ah al-Èadîê al-Syarîf (edisi kedua), Kitab: al-Waéãyã, Bab: Ta'wil Qoul Allah Ta'ala min Ba'd Waéiyyat Yüéã bihã, hadits no: 2546.
gigihnusantaraid@yahoo.com
http://hukumonline.com
http://napi1708.blogspot.com
http://www.bnn.go.id
http://www.leapidea.com
http://64.203.71.11/kompas-cetak
http://www.ham.go.id
ABSTRAKSI TESIS
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang, dan signifikansi pengaruhnya terhadap kematangan emosi narapidana, selanjutnya ingin mengetahui besar pengaruh yang diberikan. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemahaman dan pelaksanaan bimbingan agama yang diberikan dan perbedaan kematangan emosi antar kelompok narapidana yang terpilih sebagai responden.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya; pada tesis Hannibal, fakultas Psikologi UI (2007) berjudul “Rancangan Program Dzikir untuk meningkatkan penerimaan diri narapidana pada Lapas Kelas IIA Pemuda Cipinang”, fokus utama yang dilihat pada napi adalah penerimaan dirinya, sementara variabel independennya bukanlah bimbingan agama dari Lapas melainkan metode dzikir Tariqah Naqsyabandiyah yang memang khusus dirancang untuk dipaktekkan oleh para napi. Pada tesis Sahat F. Aritonang, kajian ilmu strategik ketahanan nasional UI (2003) berjudul “Sistem Pemasyarakatan dan Pola Pembinaan Mental Narapidana Kriminal Dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pemuda Cipinang”, objek yang dikaji pada napi adalah kondisi mentalnya dan variabel yang mempengaruhi adalah program pembinaan napi dari segala aspek.
Tesis Patta Parang, program studi ilmu hukum UI (1997) berjudul “Peran Aktif Petugas Lapas Dalam Membina Narapidana” tempat penelitian Lapas Kelas IIA Palu, memfokuskan pembahasan prosedur dan proses pelaksanaan pembinaan narapidana baik dari segi pembinaan agama, pembinaan kepribadian sampai pembinaan pekerjaan dan hasil yang dicapai oleh para napi melalui pembinaan itu. Tesis Sunarto, kajian ilmu hukum UI (1996), “Peranan Pembinaan Terhadap Narapidana di Lapas Tanjung Gusta Medan”, yang mengkaji peranan pembinaan dalam segala aspeknya terhadap perubahan dan perbaikan diri napi. Tesis dari Dewi Husnul Khotimah dari fakultas psikologi masih dari ITB, dengan judul “Hubungan Frekuensi Pelaksanaan Shalat Tahajud Dengan Pengendalian Emosi”. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan frekuensi pelaksanaan shalat tahajud dengan pengendalian emosi. Sementara persamaan tesis ini dengan tesis lainnya adalah variabel independennya yaitu bimbingan agama di Lapas walaupun dalam scope pembahasan yang berbeda. Kesamaan lainnya adalah dari segi tujuan, bahwa tesis ini dan tesis lainnya bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dan peranan bimbingan yang telah diberikan dalam membantu napi untuk menjadi pribadi yang sehat mental, dan lebih baik sekeluarnya dari penjara.
Untuk pencapaian tujuan telah dilaksanakan pengumpulan data melalui kuesioner dari responden narapidana yang terpilih sebagai sampel sebanyak 121 orang yang dipilih dengan tehnik stratified sample, 40% dari keseluruhan populasi sejumlah 303 orang. Sebagai data pendukung juga diajukan wawancara kepada Kepala BINAPI dan Kepala BIMASWAT serta 15 orang napi dari kategori kematangan emosi rendah, sedang dan tinggi.
Sebagai hasil dari penelitian ini adalah:
1. Terdapat signifikansi pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana wanita di Lapas Wanita ini sebesar 84.9%.
2. Terdapat variasi pengaruh setiap aspek bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana, ditunjukkan dengan adanya t hitung yang berbeda pada setiap aspek. Bimbingan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama adalah aspek yang berpengaruh tertinggi. Bimbingan ibadah shalat fardhu adalah aspek kedua yang berpengaruh. Bimbingan ibadah shalat sunnah merupakan aspek ketiga mempengaruhi kematangan emosi. Bimbingan ibadah membaca al Qur’an merupakan aspek keempat yang mempengaruhi, bimbingan ibadah puasa adalah aspek kelima yang berpengaruh dan bimbingan kesenian yang bersifat agamis merupakan aspek terkecil yang mempengaruhi.
3. Terdapat perbedaan pemahaman dan pelaksanaan bimbingan agama antar lima kelompok responden, pada kelompok pertama mayoritas napi berada pada kategori sedang, pada kelompok kedua juga kategori sedang, di kelompok tiga mayoritas kategori tinggi, di kelompok empat mayoritas berada di kategori sedang dan kelompok terakhir mayoritas kategori tinggi.
4. Terdapat perbedaan kematangan emosi antar lima kelompok responden, pada kelompok pertama mayoritas napi berada pada kategori kematangan emosi sedang, pada kelompok kedua mayoritas kategori tinggi, di kelompok tiga mayoritas kategori tinggi, di kelompok keempat dan kelima mayoritas sedang. Masa tahanan yang cukup lama bisa membuat napi untuk menenangkan emosi dengan diberikan bimbingan agama namun bisa juga sebaliknya.
Dari penelitian ini terlihat bahwa Lapas wanita Tangerang telah menerapkan pengajaran dan bimbingan agama dengan baik sesuai yang diwajibkan dan ditugaskan pada setiap lapas.
DAFTAR ISI TESIS
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN .........................
PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………………….
ABSTRAKSI ……………………………………………………………
KATA PENGANTAR …………………………………………………..
DAFTAR ISI …………………………………………………………….
TRANSLITERASI ………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah ……………………………………
2. Identifikasi Masalah …………………………………………
3. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………..
4. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian …………………….
5. Penelitian Terdahulu …………………………………………
6. Sistematika Penulisan ……………………………………….
BAB II KAJIAN TEORI
1. Bimbingan agama
1.2. definisi bimbingan ……………………………………
1.3. definisi agama ………………………………………..
1.4. definisi bimbingan agama ……………………………
1.5. fungsi agama ………………………………………….
1.6. urgensi bimbingan agama …………………………….
1.7. pengaruh agama terhadap jiwa manusia ………………
2. Kematangan emosi
2.1. definisi emosi ………………………………………….
2.2. macam-macam emosi ………………………………….
2.3. komponen penting emosi ………………………………
2.4. fungsi emosi ……………………………………………
2.5. kematangan emosi.
2.5.1. definisi kematangan emosi …………………..
2.5.2. karakteristik kematangan emosi ……………..
2.5.3. faktor yang mempengaruhi kematangan emosi
3. Narapidana wanita
3.1. gambaran umum emosi narapidana ……………………
3.2. gambaran umum emosi wanita …………………………
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
1. Metode dan pendekatan penelitian ………………………………….
2. Definisi Operasional Variabel …………………………………
3. Hipotesa Penelitian ……………………………………………
4. Populasi dan sampel …………………………………………..
5. Teknik pengambilan sampel ……………………………………
6. Prosedur pengambilan data ……………………………………
7. Instrumen penelitian ……………………………………………
8. Analisa data ……………………………………………...........
BAB IV HASIL PENELITIAN
1. Gambaran umum subjek penelitian
1.1. Sekilas LAPAS Wanita Tangerang ……………………
1.2. Gambaran umum keadaan narapidana di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang…………
1.3. Gambaran umum responden …………………………..
2. Deskripsi hasil penelitian
2.2. Deskripsi proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang …………......
2.3. Deskripsi materi bimbingan agama di Lapas Kelas IIA
wanita Tangerang …………………………………….
2.4. Deskripsi tingkat kematangan emosi narapidana setelah
mendapat bimbingan bimbingan agama ………….....
2.5. Pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan
emosi ………………..…………………………...........
3. Diskusi hasil penelitian ……………………………………..
BAB V E. PENUTUP
1. Kesimpulan ………………………………………………..
2. Saran ………………………………………………….......
3. Implikasi ………………………………………………….
LAMPIRAN
COVER TESIS
KELAS IIA WANITA TANGERANG
Tesis ini diajukan untuk melengkapi persyaratan
meraih gelar Magister pada konsentrasi Pendidikan Islam
Disusun Oleh:
DZAATIL HUSNI BINTI ALI
04.2.001.03.01.0019
Dibimbing Oleh:
DR. BAMBANG SURYADI
Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2008
Rabu, Januari 14, 2009
ملخص الرسالة
ملخص الرسالة
هدف هذه الرسالة هي العلم بعملية تطبيق ارشاد الديني في السجن الدرحة الثانية أ للنساء بتانجرانج (Lapas Kelas II A Wanita Tangerang) , و أهمية أثره على نضج انفعالي للسجين, ثم العلم بمدى التأثير فيها. بجانب ذلك تهدف الرسالة لعلم فرق الفهم و التطبيق ارشاد الديني الذي يعطي و الفرق لنضج انفعالي بين مجموع السجين المستجيب.
فرق هذه الرسالة برسالات السابقة: في رسالة الماجستر لــ Hannibal بكلية علم النفس جامعة إندونيسية (2007) بموضوع: Rancangan Program Dzikir untuk meningkatkan penerimaan diri narapidana pada Lapas Kelas II A Pemuda Cipinang, تركز على استقبال السجين, مع أن المتغير المستقل ليس ارشاد الديني من السجن (lapas) و لكن طريقة الذكر لطريقة النقشبندية التي تطبق خاصة للسجين. في الرسالة Sahat F. Aritonang, Kajian Ilmu Strategik Ketahanan Nasional UI (2003) بموضوع: Sistem Pemasyarakatan dan Pola Pembinaan Mental Narapidana Kriminal dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pemuda Cipinang, هدف الذي يدرسه السجين هو نفسيته و المتغير الذي يؤثر هو برنامج ارشاد السجين من كل نواحيه.
الرسالة لــ Patta Parang قسم علم الأحكام جامعة إندونيسية (1997) بموضوع: Peran Aktif Petugas Lapas dalam Membina Narapidana, tempat penelitian Lapas Kelas IIA Palu, تركز على كيفية و عملية تطبيق الشخصية حتى ارشاد العمل و النتيجة التي تستخرج من ذلك الإرشاد. الرسالة لــ Sunarto دراسة علم الأحكام جامعة إندونيسية (1996) بموضوع: Peranan Pembinaan terhadap Narapidana di Lapas Tanjung Gusta Medan, التي تدرس دور الإرشاد بكل نواحيه في تغيير و تحسين السجين. الرسالة لــ Dewi Husnul Khotimah من الكلية علم النفس ITB بموضوع: Hubungan Frekuensi Pelaksanaan Shalat Tahajjud dengan Pengendalian Emosi. هذه الرسالة تهدف إلى البحث عن علاقة درجة التطبيق صلاة التهجد مع تحكم الإنفعال. بينما المساواة هذه الرسالة مع الرسالات الأخرى هي المتغير المستقل (ارشاد الديني في السجن) برغم أنه في مختلف مجال البحث. المساواة الأخرى هي من ناحية الهدف, أن هذه الرسالة و الرسالات الأخرى تهدف إلى العلم بمدى التأثير و دور الإرشاد في مساعدة السجين ليكون صحيح النفس و أحسن الحال عند الخروج من السجن.
لوصول الهدف يجمع المعلومات عن طريق الإستبيان من المستجيب و هو السجن المختار لعينة و عددهم 121 سجينا مع طريقة العينة الطباقية (Stratified Sample) 40% من جميع السكان التي عددها 303 نفرا. كمعلومة المساعدة, تقدم الحوار مع الرئيس BINAPI و BIMASWAT و 15 سجينا من ناحية نضج الإنفعالي الضعيف, المتوسط, و العالي.
فالنتيجة هذه الرسالة هي:
1. أهمية التأثير ارشاد الديني على نضج الإنفعالي سجين المرأة في هذا السجن النسائي هي لدرجة 84,9%.
2. فيه تنوع التأثير كل ناحية ارشاد الديني على نضج الإيفعالي السجين, و ذلك يشار بوجود ت الحسالب (t hitung) المختلفة في كل النواحي. ارشاد الموقف و الشخصية الموافق بتعليم الدين هو أعلى جانب التأثير. ارشاد صلاة المفروضة هو الجانب الثاني في التأثير. ارشاد صلاة المسنونة هو الجانب الثالث الذي يؤثر نضج الإيفعالي. ارشاد قراءة القرآن هو الجانب الرابع فث التأثير, ارشاد الصيام هو الجانب الخامس في التأثير, و ارشاد الفن الديني هو الجانب الأصغر في التأثير.
3. فيه فروق الفهم و التطبيق في ارشاد الديني بين خمسة المستجيب, ففي مجمعة الأولى أغلبية السجين في درجة المتوسطة, و في مجموعة الثانية في درجة المتوسطة أيضا, و في مجموعة الثالثة غالبا في درجة عالية, و في مجموعة الرابعة غالبا في درجة متوسطة, و الأخير غالبا في درجة عالية.
4. فيه فروق الفهم لنضج الإنفعالي بين جمسة مجموعة المستجيبة. في مجموعة الأولى أغلبية السجين في درجة نضج الإنفعالي المتوسطة, في مجموعة الثانية غالبا في درجة عالية. في مجموعة الثالثة غالبا في درجة عالية. في مجموعة الرابعة و الخامسة غلبا متوسطة. مدة السجن الطويلة يجعل السجين هادئ الإنفعالي بطريقة إعطاء الإرشاد الديني, و العكس كذالك.
من هذه الرسالة بعرف أن السجن النسائي بتانجرانج قد طبق التدريس و الإرشاد الديني بشكل جيد وفقا على ما فرض لكل السجن.
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
SINOPSIS BAB I
Bab I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pria maupun wanita memiliki kemampuan yang sama untuk berbuat jahat atau melakukan tindak kejahatan yang bisa bermuara pada proses hukum di pengadilan dan vonis hukuman penjara. Menurut Frances Heidenson yang mengamati perkembangan kejahatan yang dilakukan wanita Amerika, wanita yang masuk penjara jumlahnya terus meningkat dari tahun 1970 sampai saat ini, dan jumlah peningkatannya terkadang melebihi jumlah pria yang masuk penjara . Begitu pula halnya dengan kejahatan di tanah air, akhir-akhir ini kejahatan perempuan semakin meningkat, salah satu contohnya dapat dilihat dari data jumlah narapidana sebanyak 433 orang yang ada di Lapas Wanita Tangerang. Meningkatnya jumlah tersebut juga disertai dengan bervariasinya jenis kejahatan yang mereka lakukan. Pada saat ini mayoritas kejahatan yang dilakukan oleh para napi yang ada di LP ini adalah seputar narkoba, yaitu sebagai pengedar, bahkan bandar atau pemakai. Jenis kejahatan lainnya adalah pembunuhan, jual beli anak, penipuan, penggelapan atau pemalsuan uang, dan banyak jenis kejahatan lainnya.
Kehidupan di balik terali sangatlah rentan dengan gesekan-gesekan emosional yang mudah menyulut kemarahan dan pertengkaran. Karena setiap individu yang tidur di dalam bui menanggung beban yang tidak ringan di dalam jiwanya dan ini berpotensi besar menuju ketidakstabilan atau ketidakmatangan emosi. Walaupun para napi adalah wanita dewasa yang seharusnya memiliki tingkat kematangan emosi tinggi namun permasalahan hidup bisa saja menyebabkan kematangan emosi mereka menjadi terganggu. Pemberian bimbingan agama merupakan sebuah keharusan yang mutlak dilaksanakan setiap Lapas. Karena agama mampu memberikan ketenangan dan kesadaran meskipun secara perlahan ke dalam hati napi. Namun semua ini sangatlah tergantung kepada manajemen Lapas dalam menjalankan program bimbingan. Figur dan kemampuan mengajar ustadzah yang memberikan bimbingan sangat berpengaruh besar terhadap penerimaan bimbingan yang diberikan. Selain itu kelengkapan sarana dan fasilitas penunjang juga memiliki andil dalam membangkitkan respon dan animo napi untuk senantiasa mengikuti bimbingan.
Sehubungan dengan itu maka penelitian ini mengambil pembahasan tentang : pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi napi di LP Wanita Tangerang.
Pembatasan masalah
Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Pelaksanaan bimbingan agama di lingkungan Lapas wanita ini dibatasi pada prosedur pelaksanaan, materi bimbingan, dan pihak yang diajak kerja sama oleh Lapas wanita Tangerang.
2. Tingkat kematangan emosi napi dibatasi hanya pada tingkat kematangan emosi setelah mendapat bimbingan agama.
3. Pengaruh bimbingan agama terhadap tingkat kematangan emosi napi disertai perbedaan pemahaman bimbingan agama dan perbedaan kematangan emosi napi berdasarkan lama masa tahanan.
Sedangkan perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “pengaruh bimbingan agama yang diberikan Lapas terhadap kematangan emosi narapidana”.
Sistematika Penulisan
Penulisan dimulai dengan bab I berupa pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, definisi operasional, kajian terdahulu dan sistematika penulisan.
Selanjutnya bab ke dua adalah kajian teori, di dalamnya dibahas tiga poin. Poin pertama adalah bimbingan agama yang mengandung sub poin sebagai berikut : definisi agama, fungsi agama, pengaruh agama terhadap jiwa manusia, urgensi bimbingan agama. Poin ke dua yaitu kematangan emosi yang di dalamnya terdapat subpoin sebagai berikut: definisi emosi, macam-macam emosi, komponen penting emosi, fungsi emosi, kematangan emosi. Subpoin kematangan emosi memiliki tiga subpoin yaitu: definisi kematangan emosi, karakteristik kematangan emosi, faktor yang mempengaruhi kematangan emosi. Poin ke tiga dari kerangka berfikir adalah narapidana wanita yang membahas tentang gambaran umum emosi narapidana dan gambaran umum emosi wanita.
Dilanjutkan dengan bab tiga yang membahas metodologi dan pendekatan penelitian. Dalam metodologi ini akan dikemukakan Definisi Operasional Variabel, Hipotesa Penelitian, Populasi dan sampel, Teknik pengambilan sampel, Prosedur pengambilan data, Instrumen penelitian, Analisa data.
Bab empat mengemukakan tiga poin yaitu poin hasil penelitian, yang memaparkan gambaran umum subjek penelitian, terdiri dari subpoin: sekilas Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang, gambaran umum keadaan narapidana di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang, gambaran umum responden. Poin ke dua adalah deskripsi hasil penelitian memiliki subpoin deskripsi proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA wanita Tangerang, deskripsi materi bimbingan agama yang diberikan di Lapas Kelas IIA wanita Tangerang, deskripsi tingkat kematangan emosi napi setelah mendapatkan bimbingan agama, pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi wanita dewasa terpidana. Poin yang ketiga adalah diskusi hasil penelitian.
Terakhir adalah bab V yaitu penutup. Dalam penutup ini akan terdapat kesimpulan, implikasi dan saran.
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
SINOPSIS BAB II
BAB II
KAJIAN TEORI
1. Definisi Bimbingan Agama
Definisi bimbingan
Prayitno dan Erman Amti memaknai bimbingan sebagai pemberian bantuan yang dilakukan orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuannya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada, dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Ide-ide pokok atau pilar-pilar penting yang mendasari terbentuknya sebuah proses bimbingan, yaitu:
1. Proses bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang
2. Bantuan hanya bisa diberikan oleh orang yang ahli di bidang tersebut
3. Pemberian bantuan tidak pilih rentang usia atau jenis kelamin tertentu
4. Pemberian bantuan merupakan proses yang kontinyu dalam rentang waktu tertentu
5. Bertujuan untuk menolong individu yang dibantu agar ia memahami potensi dirinya, mengenali masalahnya, mencari solusi serta menggali makna dari masalah yang dialami, dan mampu mengendalikan hidupnya ke arah yang baik secara mandiri, tidak bergantung pada orang lain
6. Agar individu mampu mencapai hidup yang bahagia dan bermanfaat bahkan juga bisa memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Definisi agama
Secara menyeluruh agama dapat dipahami sebagai suatu dogma, norma, ideologi, ajaran atau semacamnya yang menimbulkan keterikatan jiwa, kepatuhan, ketundukkan, ketaatan terhadap kekuatan yang maha tinggi, atau sumber segala kehidupan yang ada di dunia ini. Ajaran atau keyakinan ini bersifat sangat sakral, dan terwariskan dari generasi ke generasi, sehingga setiap komunitas manusia di dunia ini memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan pengabdian dan kepatuhan tersebut pada zat yang mereka akui sebagai yang maha tinggi. Kekuatan yang diagungkan, yang diyakini bisa menolong manusia saat manusia tidak lagi dapat menolong dirinya sendiri dalam menghadapi problema hidup. Namun agama tidak selalu menjelaskan secara rinci cara atau usaha apa saja yang harus ditempuh manusia agar ia bisa hidup selaras dan seimbang dengan makhluk lainnya dan juga berinteraksi dengan baik terhadap alam, mampu menggali manfaat alam demi kesejahteraan manusia tanpa merusak kestabilan ekosistem yang pada gilirannya akan menhancurkan manusia itu sendiri. Oleh karenanya manusia haruslah menjalankan akalnya agar ia bisa menemukan ide cemerlang dan positif untuk memakmurkan kehidupannya dengan mengambil manfaat dari seluruh potensi yang telah disediakan Tuhan baginya, baik potensi dari dalam dirinya atau dari luar dirinya.
2. Definisi kematangan emosi
Kematangan atau maturitas adalah penggambaran terhadap suatu pergerakan, pertumbuhan dan spontanitas. Kematangan dapat dipahami sebagai suatu standar pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Indikator kematangan emosi yang digunakan dalam penelitian ini:
1) Menguasai stress
2) Rasional
3) Realistis dan qana’ah
4) Sabar yang positif dan optimis
5) Penguasaan rasa marah (termasuk didalamnya cemburu dan sedih)
6) Kemampuan beradaptasi dan kerjasama
7) Sportif terhadap kesalahan dan mengakui kekurangan
8) Kemampuan menyayangi dan mencintai dengan cara wajar
9) Kemampuan menerima dan menghargai perhatian dan kasih sayang orang lain
10) Kemampuan berempati
11) Tanggung jawab
12) Mandiri
13) Kontrol diri
14) Kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan lawan jenis
15) Bijaksana dan objektif dalam penilaian dan pengambilan keputusan
16) Selera humor yang sehat
17) Egosentrisme sosiosentrisme
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
SINOPSIS BAB III
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan bentuk penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang bekerja dengan angka yang datanya berujud bilangan (skor atau nilai, peringkat atau frekuensi), yang dianalisa dengan menggunakan statistik untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya spesifik, dan untuk melakukan prediksi bahwa suatu penelitian tertentu mempengaruhi variabel yang lain .
Jenis penelitian ini, adalah penelitian eksperimental dengan mengambil model Pengukuran Sesudah Kejadian (PSK). Pada model PSK ini, peneliti tidak memberikan treatment tertentu pada kelompok responden, hanya mengukur kondisi responden sesudah terjadinya suatu treatment tanpa mempermasalahkan treatment tersebut diberikan oleh siapa dan kapan terjadinya.
Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional
A. Bimbingan Agama
Definisi operasional bimbingan agama dalam penelitian ini adalah sebuah proses pemberian bantuan, arahan, tuntunan, mengenai materi keagamaan (dalam hal ini agama Islam), kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan umat beragama, norma-norma hidup yang diatur dalam agama, dimana bantuan ini diberikan oleh orang yang berkompeten di bidang bantuan yang akan diberikan dan ditujukan kepada individu yang membutuhkan dalam rangka menggali dan mengarahkan potensi diri yang dimiliki individu untuk memahami dan mengamalkan ajaran agama, agar dapat memilih sendiri jalan hidupnya sesuai yang dikehendaki agama, menyelesaikan masalah kehidupan dengan cara yang benar sesuai panduan agama, mandiri dan bertanggung jawab, hingga apa yang dilakukannya bisa bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat di sekitarnya dengan tidak menepikan kode-kode normatif agama.
B. Kematangan emosi
Dalam penelitian ini kematangan emosi didefinisikan sebagai kemampuan narapidana untuk mengekspresikan emosi secara wajar dan benar, menggunakan pertimbangan-pertimbangan rasional dan intelektual, juga menenggang norma sosial, tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi, juga sepadan dengan kebutuhan yang dituntut oleh lingkungan sosial saat itu, dimana kemampuan tersebut tidak memiliki batasan akhir atau bentuk standar yang selalu tetap, karena proses menjadi seorang yang matang adalah proses yang berlangsung selama individu itu masih berinteraksi dengan dunia di luar dirinya. Namun begitu pola luapan emosi individu yang sudah mencapai kematangan tidaklah mudah berubah-ubah atau labil seperti anak-anak.
C. Narapidana
Narapidana merupakan istilah yang diberikan kepada orang-orang yang telah terbukti bersalah secara hukum, dan sudah dijatuhi vonis hukuman berupa kurungan penjara atau hukuman lainnya sesuai dengan pasal dalam undang-undang hukum pidana yang telah dilanggarnya.
Variabel Bebas.
Dinamakan juga variabel yang mempengaruhi, dan dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah bimbingan agama.
Variabel terikat.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kematangan emosi.
Hipotesa penelitian
1. Hipotesa nihil (H0): tidak terdapat pengaruh yang signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana di Lapas wanita Kelas IIA Tangerang
2. Hipotesis alternatif (Ha): terdapat pengaruh yang signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana di Lapas wanita Kelas IIA Tangerang
3. Hipotesa nihil (H0): tidak terdapat perbedaan bimbingan agama pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
4. Hipotesis alternatif (Ha): terdapat perbedaan bimbingan agama pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
5. Hipotesa nihil (H0): tidak terdapat perbedaan kematangan emosi pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
6. Hipotesis alternatif (Ha): terdapat perbedaan kematangan emosi pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan
Teknik Pengambilan Sampel.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified sample. sampel dibagi ke dalam kelompok-kelompok, dan di sini ada 5 kelompok tahanan. jumlah sampel dari kelima kelompok pembagian ini: 121 orang atau 40% dari jumlah populasi 303 orang, angka ini didapat dari penyederhanaan bilangan: 40% dari 303 = 121.2
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen: wawancara dan kuesioner. Wawancara ditujukan kepada KASI BINAPI (Ketua Seksi Bimbingan Narapidana) yaitu Ibu Suryati AR, dan KABIMASWAT (Ketua Bimbingan Pemasyarakatan dan Perawatan), yaitu Ibu Endang mengenai pelaksanaan bimbingan agama dan pengaruh yang terlihat pada kematangan emosi napi. Sedangkan kuesioner ditujukan kepada narapidana, yang terbagi dalam dua bagian: pertama, untuk mengukur bimbingan agama, kedua untuk mengukur kematangan emosi.
Instrumen kuesioner dalam penelitian ini adalah berbentuk skala sikap: yaitu skala sikap bimbingan agama terhadap kematangan emosi.
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
SINOPSIS BAB IV
BAB IV
HASIL PENELITIAN
1. Gambaran umum subyek penelitian
1.1 Sekilas LAPAS Wanita Tangerang
LP Kelas IIA Wanita (LPW) Tangerang didirikan pada tahun 1977 dan difungsikan pada tanggal 5 Februari 1981, merupakan pindahan dari LPW Bukit Duri.
A. Tugas pokok dan fungsi penjara
LPW Tangerang mempunyai tugas untuk melaksanakan pembinaan narapidana wanita.
B. Jumlah petugas
Petugas Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang keseluruhannya berjumlah 110 orang yang terdiri dari 13 orang pejabat struktural, 61 orang petugas keamanan, 26 orang petugas pembinaan dan staf.
C. Kegiatan Pembinaan
Kegiatan pembinaan yang dilakukan di dalam LP Kelas IIA Wanita Tangerang berupa pendidikan dan pengajaran, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum, kursus-kursus keterampilan dan latihan kerja, olahraga dan kesenian.
D. Masalah
Masalah yang dihadapi pihak Lapas Kelas IIA Wanita saat ini adalah terbatasnya dana yang tersedia untuk pembelian obat-obatan, biaya pembinaan, penambahan bangunan gedung.
E. Rencana Program
Peningkatan kegiatan asimilasi dan integrasi merupakan rencana program jangka panjang yaitu untuk membentuk kegiatan baru yang bisa lebih mengakrabkan antar sesama napi dan antara napi dengan para petugas.
1.2 Gambaran umum keadaan narapidana di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang
Jumlah wanita yang mendekam di balik terali besi Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang sebanyak 404 orang.
2. Deskripsi hasil penelitian
2.1 Deskripsi proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA wanita
Pelaksanaan bimbingan agama berlangsung setiap hari dari hari Senin sampai Sabtu, dari jam 10.00 pagi sampai waktu shalat dzuhur. Peserta bimbingan bergantian dari setiap blok. Pengajar atau ustadzah pembimbing juga datang bergantian dari hari Senin sampai Sabtu sesuai jadwal yang telah disusun.
2.2 Deskripsi materi bimbingan agama yang diberikan di Lapas wanita Tangerang
Materi yang diajarkan para ustadzah dan pembimbing adalah mencakup:
1. Belajar wudlu dan shalat.
2. Belajar membaca al Qur’an.
3. Akhlaq mahmudah (terpuji)
4. Shalawat Nabi
5. Do’a-do’a dan surat-surat pendek
2.3 Deskripsi tingkat kematangan emosi napi setelah mendapatkan bimbingan agama
Apabila dilihat taraf kematangan emosi pada tiap indikatornya sangatlah fluktuatif dan cenderung tidak stabil. Namun secara umum dapat dilihat bahwa kondisi kematangan emosi narapidana setelah mendapatkan bimbingan agama.
Kategori Frekuensi %
Tinggi 42 34.71%
Sedang 69 57.03%
Rendah 10 8.26%
Jumlah 121 100 %
2.3 Pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana wanita
Berdasarkan hasil yang telah didapatkan ini, bahwa bimbingan agama yang telah didapatkan napi berpengaruh sebesar 84.9% terhadap kematangan emosi. Dari hasil ini peneliti berkesimpulan terdapat pengaruh yang signifikan dari bimbingan agama terhadap kematangan emosi napi wanita di Lapas Kelas IIA ini. Ini berarti hipotesis nihil (H0) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana ditolak. Dengan demikian hipotesis nihil (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana diterima.
Begitu pula untuk menjawab hipotesis yang kedua tentang perbedaan pemahaman bimbingan agama antar kelompok responden. Hipotesis nihil (H0) yang menyatakan bahwa tidak terdapat pemahaman bimbingan agama antar kelompok responden berdasarkan lamanya masa tahanan ditolak. Dengan demikian hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kematangan emosi pada narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan diterima.
Mengenai hipotesa tentang perbedaan kematangan emosi antar kelompok responden, didapat hasil bahwa hipotesis nihil (H0) yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kematangan emosi pada narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan ditolak. Dengan demikian hipotesis nihil (Ha) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kematangan emosi pada para narapidana berdasarkan lamanya masa tahanan diterima.
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
SINOPSIS BAB V
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Penelitian yang berjudul “Pengaruh Bimbingan Agama Terhadap Kematangan Emosi Narapidana Di Lapas Wanita Kelas II A Tangerang” mendapatkan hasil sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang signifikan yang diberikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana sebesar 84.9%. Berarti (H0) yang menyatakan tidak terdapat pengaruh yang signifikan bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana di Lapas wanita Kelas IIA Tangerang ditolak dan (H1) diterima.
Ada enam aspek bimbingan agama yang diberikan, yaitu bimbingan ibadah shalat fardhu, bimbingan ibadah shalat sunnah, bimbingan ibadah membaca al Qur’an, bimbingan ibadah puasa, bimbingan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama, dan bimbingan kesenian yang bersifat agamis. Dari keenam aspek ini dapat diurutkan besarnya pengaruh yang diberikan aspek-aspek tersebut terhadap kematangan emosi:
A. bimbingan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama adalah aspek yang berpengaruh tertinggi dengan t hitung 7.367.
B. Bimbingan ibadah shalat fardhu adalah aspek kedua yang berpengaruh dengan t hitung 6.409.
C. Bimbingan ibadah shalat sunnah merupakan aspek yang ketiga mempengaruhi kematangan emosi napi dengan nilai t hitung 4.987.
D. Bimbingan ibadah membaca al Qur’an merupakan aspek keempat yang mempengaruhi kematangan emosi napi dengan nilai t hitung 4.921.
E. Bimbingan ibadah puasa adalah aspek kelima yang berpengaruh dengan nilai t hitung 4.038.
F. Bimbingan kesenian yang bersifat agamis merupakan aspek terkecil yang mempengaruhi kematangan emosi napi, dengan nilai t hitung 3.572.
2. Terdapat perbedaan antara kelompok responden tentang pemahaman dan pelaksanaan bimbingan agama dengan besar F hitung 6.627.
3. Terdapat perbedaan kematangan emosi antara kelompok responden dengan besar F hitung 5.255.
2. Implikasi
Kesemua aspek tersebut hanya mempengaruhi kematangan emosi narapidana wanita sebanyak 84.9%, itu berarti pengaruh lain di luar aspek-aspek dalam bimbingan agama ini sebanyak 15.1%.
Keberadaan program bimbingan agama merupakan sebuah keharusan yang sudah disahkan Undang-Undang Hukum Pidana. Peraturan yang mengharuskan ini sudah ada sejak 1917 dalam Gestichten Reglement (peraturan kepenjaraan) stbl 708, yang disusun oleh kolonial Belanda.
3. Saran
A. Untuk pihak Lapas. Hendaknya bagian binaan napi membangun ruangan baru pada setiap blok untuk pelaksanaan bimbingan agama, agar para napi tidak perlu pergi ke ruangan bimaswat atau aula untuk menghadiri bimbingan.
B. Untuk narapidana. Hendaknya mengikuti bimbingan agama dengan niat yang bersih dan kesadaran pribadi yang tinggi. Bukan dikarenakan keinginan untuk mendapat remisi, atau karena menyukai ustadzah yang memberikan bimbingan, atau hanya karena bosan di kamar jadi memilih hadir di aula untuk ikut bimbingan padahal hatinya tidak tertarik dengan materi bimbingan itu.
Sekian saran dari peneliti terhadap upaya bimbingan agama yang sudah dilaksanakan di Lapas ini. Semoga tulisan ini benar-benar memberi manfaat yang signifikan terhadap kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan bimbingan agama di Lapas ini pada waktu mendatang.
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
DAFTAR PUSTAKA TESIS
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Zulkarnain, Mengapa Harus Perempuan? Yogya: Ar Razz, 2003
Al Muhasibi, Abdillah, Hidup Tanpa Derita, “Kiat praktis dan Jitu Menata Kinerja Hati dan Akal, Jakarta: Penerbit Hikmah, 2006, Cet. ke 1
Al Munawwar, Said Aqil Husain, Aktualisasi nilai-nilai Qur’ani dalam system pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005 cet. ke 1
Al Qur’an al Karim
Al Sayih, Abdul Raheem, Keutamaan Islam Terj., Jakarta: Pustaka Azzam, 2001
Anderson, Scarvia B.: Encyclopedia of Educational Evaluation, London Joosy: Bass, 1975
Argyle, Michael and Benjamin Beit-Hallahmi, Psychology of Religious Behaviour, Belief and Experience, London: Routledge, 1997, 1st ed.
Arifin, HM., Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta: Terayon Press, 1994), Cet ke 1
Arikunto, Suharsimi, Manajamen Penelitian, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005),
-----------, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), Cet ke 12, hal 186
Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman, Sistem Pemasyarakatan di Indonesia, (Bandung: Penerbit Bina Cipta, 1979)
Bahtiar, Amsal, Filsafat Agama, Jakarta: Logos, 1999
Blood & Blood, Marriage, New York: Macmillan Publisher, 1978, 3rd ed.
Boeree, George, Personality Theories: Melacak Kperibadian Anda Bersama Psikolog Dunia, Terj., Yogyakarta: Primashopie, 2005, Cet. Ke 2
Budiman, Arif, & Abu Bakar Baradja, Mental Sehat Hidup Nikmat, Mental Sakit Hidup pahit, Jakarta: Studia Press
Burhan Nurgiantoro dan Gunawan Marzuki, Statistik Terapan: Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial,
Burns, R.B. Konsep diri: teori, pengukuran dan perkembangan perilaku, (terj. Dari judul Asli The Self Concept: Theory, Measurement, Development and Behaviour), Jakarta: Arcan, 1993, Cet 1
Carol L. Rhodes Ph.D. & Norman S. Goldner Ph.D., Why Women & Men Don’t Get Along? Terj. Jakarta: Pustaka Delaprasa, 2001
Carrel, Alexis, Man: The Unknown, Bombay: Willco Publishing House
Chaplin, J.P., Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Crapps, Robert W., Perkembangan Kepribadian & Keagamaan Terj., Yogyakarta: Kanisius
Daradjat, Zakiah Prof. Dr., Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, (Jakarta: Toko Gunung Agung, 2001, Cet ke 16, hal 13 - 24
Davidoff, Linda L. Psikologi Suatu Pengantar, jilid 2, Terj., Jakarta: Erlangga, 1991
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997, Cet ke 9
Departemen Kehakiman, Sekilas Tentang Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Wanita Tangerang, (2002)
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Bandung: CV. Ilmu, 1987, Cet ke 9
Donelson, Elaine, Asih Asah Asuh: Keutamaan Kaum Wanita, Terj., Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1990
Duval E. M. Miller B. C. Marriage and Family Development, New York: Row Publisher, 6th ed
Durkheim, Emile, Pendidikan Moral, Suatu Studi Teori dan Aplikasi Sosiologi Pendidikan, (Terj.) Jakarta: Erlangga, 1990
Eart R. Babie, Survey Research Method, California: Wadswoth Publishing Company, Inc., 1973
Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994,
Faisal, Sanapiah, Format Penelitian Sosial, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), Cet ke 6
Faqih, Aunur Rahim, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, Yogyakarta, UII Press, 2001, Cet. Ke 2
Fontana, David, Psychology, Religion and Spirituality, USA: Blackwell Publishing Ltd., 2003, 1st ed.
Fromm, Erich, Man for Him Self, New York: Holt, Rinehart & Winston, 1947
Garlow L. & Katkovsky W. The Psychology of Adjustment, New York: Mc Graw Hill Inc., 1976, 3rd ed.
Goleman, Daniel, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting Dari IQ., Jakarta: PT. Gramedia, 2004, Cet.ke 14
Greenwood III James W, & Greenwood James Jr, Managing Executive Stress, Canada: John Willey and Sons Ltd, 19791st ed
Gunarsa, Singgih D, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000
Guilford J.P dan Bunyamin Frutcher, Fundamental Statistic in Psychology and Education, Tokyo: Mc. Graw Hill Kogukusha, 1976
Hurlock, Elizabeth, Child Development, (Mc Graw Hill, 1978) 6th ed.
-----------------------, Adolescent Development, (Tokyo: Mc Grow Hill Kagokusha Ltd, 1973)
Ine I. Amiran Yousda dan Zainal Arifin, Penelitian dan Statistik Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1993, cet.I.
Jalaluddin, Psikologi Agama, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1996
Jane C. Ollenburger dan Helen A. Moore, Sosiologi Wanita, Terj. Jakarta: Rineka Cipta, 1996, Cet 1
Jersild AT., Brook JS., Brook DW. The Psycologhy of Adolescence, New York, MacMillan Publishing Co. Inc., 1978
John G. Carlson & Elaine Hatfield, Psychology of Emotion, New York: Harcourt Brace Jovanovich College Pubishers
Kartono, Kartini, Psikologi Anak, Bandung: CV Mandar Maju, 1995) Cet ke 5,
Kaswardi, E.M.K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000, Jakarta: PT. Gramedia, 1993
Kerlinger, Fred N. Azaz-azaz Penelitian Behavioral, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000
Kowalski, Mark Larry, The Social Psychology of Emotional & Behavioural Problems, Washington: American Psychological Association, 2002, 1st ed
Lari, Sayyid Mujtaba Musawi, Etika & Pertumbuhan Spiritual, Terj., Jakarta: Penerbit Lentera, 2001, Cet 1
Lazarus, Richard S., Emotion and Adaption, New York: Oxford University Press, 1991
Lone P.& Srhene A., Working Woman: A guide to Fitness and Health, Toronto: The Mosby Co, 1986
Lugo J. & Hersye G, Human Development: Physiological, Biological & Sociological Approach, New York: Macmillan Publishing, 1979 2nd ed
Najati, Muhammad Usman, Jiwa Dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Terj. Pustaka Hidayah: Bandung, 2002, Cet. ke 1
-------, M. Usman, Psikologi dalam Pandangan Hadits Nabi, Terj.
Natawijaya, Rahman, Peran Guru Dalam Bimbingan di Sekolah, Bandung: CV Abardin, 1998 Cet ke 1
Nottingham, Elizabeth K., Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Psikologi Agama, Terj., Jakarta: CV Rajawali
Madjid, Nurcholish, Masyarakat Religius, Jakarta: Paramadina 2004, Cet ke 3
Mahmud, Ali Abdul Halim, Fikih Responsibilitas -Tanggung Jawab Muslim Dalam Islam-, Jakarta: Gema Insani Press, 1998, Cet. ke 1
M. Umar dan Sartono, Bimbingan dan Penyuluhan, Bandung: Pustaka Setia, 1998 Cet 1
Mubarok, Ahmad, Jiwa Dalam Al Qur’an, Jakarta: Paramadina, 2000, cet. ke 1
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. ke 2
Panjaitan, Petrus Irwan, SH. MH., Pandapotan Simorangkir SH, “Lembaga Pemasyarakatan Dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana”, Jakarta: Sinar Harapan, 1995
Pervin, L.A., (ed.), Handbook of Personality; Theory and Research, New York: The Guliford Press, 1990
Philip G. Zimbardo, Fliyd L. Puch, Psychology and Life, USA: Scott, Foresman and Company, 1971, 9th ed
Pikunas, Justin, Human Development: an Emergent Science, Tokyo : Mr. Grow Hill Inc, 1976, 3rd edition
Plutchik, Robert, The Psychology and Biology of Emotion, USA, Harper Colins College, 1994
Poespoprodjo, DR. W. S.H., S.S., B.Ph., L.Ph., Filsafat Moral (Kesusilaan Dalam Teori dan Praktek), Bandung: Pustaka Grafika, 1999
Powell, M. The Psychology of Adolescence, New York: The Bobs-Meril1 Co,1963 2nd ed
Prayitno, dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan Konseling, Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet 1
Puspito, Hendro O.C., Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1998, Soejono
Romly, A. Penyuluhan Agama Menghadapi Tantangan Baru, (Jakarta:PT. Bina Rena Pariwara, 2001), Cet. ke 1
Sax, Albert, Foundation of Educational Research, (New Jersey: Prentice Hall, Inc., 1979)
Sarwono, Sarlito Wirawan,: Berkenalan Dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, Jakarta : Bulan Bintang, 2000, Cet ke 3
Scheineders, Personal Adjustment and Mental Health, New York: Holt Rinerhart and Winson
Schultz, Duan, Psikologi Pertumbuhan: Model-model Keperibadian Sehat Terj., Yogyakarta: Kanisius, 1991
Shihab, M. Quraish, Wawasan Al Qur’an, Bandung: Mizan, 1998
Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES, 1989 Cet ke 2
Smith, Wilfred C. Memburu Makna Agama, Terj. Bandung: Mizan, 2004
Soekanto, Kamus Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993
Strongman KT., The Psychology of Emotion, England,: John Willey & Sons
Ltd, 1996
Sukardi, Dewa Ketut, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Surabaya: Usaha Nasional
Suryabrata, Sumadi, Metodelogi Penelitian, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Suparlan, Parsudi, Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing Dalam Masyarakat Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995
Syani, Abdul, Sosiologi : Sistematika, Teori dan Terapan, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002
Wedge, Florence, Mengatasi Rasa Marah, (Terj.), Jakarta: Penerbit Obor, 1989, Cet ke 1
Yusuf, Syamsu, Mental Hygiene, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004, Cet. ke 1
Referensi tesis/disertasi, laporan penelitian
Hasanat, Apakah Perempuan Lebih Depresif dari laki-laki? Laporan Penelitian, Yogyakarta: Fakultas Psikologi, 1994
Matindas, R.W. Dimensi-dimensi Kematangan Pribadi, Disertasi Jakarta: Program Pasca Sarjana UI, 1993
Referensi selain buku dan tesis (CD Room, situs internet
Sahih Bukhari, CD Room: Mausu'ah al-Èadîê al-Syarîf (edisi kedua), Kitab: al-Waéãyã, Bab: Ta'wil Qoul Allah Ta'ala min Ba'd Waéiyyat Yüéã bihã, hadits no: 2546.
gigihnusantaraid@yahoo.com
http://hukumonline.com
http://napi1708.blogspot.com
http://www.bnn.go.id
http://www.leapidea.com
http://64.203.71.11/kompas-cetak
http://www.ham.go.id
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
ABSTRAKSI TESIS
Abstraksi
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang, dan signifikansi pengaruhnya terhadap kematangan emosi narapidana, selanjutnya ingin mengetahui besar pengaruh yang diberikan. Selain itu juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemahaman dan pelaksanaan bimbingan agama yang diberikan dan perbedaan kematangan emosi antar kelompok narapidana yang terpilih sebagai responden.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya; pada tesis Hannibal, fakultas Psikologi UI (2007) berjudul “Rancangan Program Dzikir untuk meningkatkan penerimaan diri narapidana pada Lapas Kelas IIA Pemuda Cipinang”, fokus utama yang dilihat pada napi adalah penerimaan dirinya, sementara variabel independennya bukanlah bimbingan agama dari Lapas melainkan metode dzikir Tariqah Naqsyabandiyah yang memang khusus dirancang untuk dipaktekkan oleh para napi. Pada tesis Sahat F. Aritonang, kajian ilmu strategik ketahanan nasional UI (2003) berjudul “Sistem Pemasyarakatan dan Pola Pembinaan Mental Narapidana Kriminal Dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pemuda Cipinang”, objek yang dikaji pada napi adalah kondisi mentalnya dan variabel yang mempengaruhi adalah program pembinaan napi dari segala aspek.
Tesis Patta Parang, program studi ilmu hukum UI (1997) berjudul “Peran Aktif Petugas Lapas Dalam Membina Narapidana” tempat penelitian Lapas Kelas IIA Palu, memfokuskan pembahasan prosedur dan proses pelaksanaan pembinaan narapidana baik dari segi pembinaan agama, pembinaan kepribadian sampai pembinaan pekerjaan dan hasil yang dicapai oleh para napi melalui pembinaan itu. Tesis Sunarto, kajian ilmu hukum UI (1996), “Peranan Pembinaan Terhadap Narapidana di Lapas Tanjung Gusta Medan”, yang mengkaji peranan pembinaan dalam segala aspeknya terhadap perubahan dan perbaikan diri napi. Tesis dari Dewi Husnul Khotimah dari fakultas psikologi masih dari ITB, dengan judul “Hubungan Frekuensi Pelaksanaan Shalat Tahajud Dengan Pengendalian Emosi”. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan frekuensi pelaksanaan shalat tahajud dengan pengendalian emosi. Sementara persamaan tesis ini dengan tesis lainnya adalah variabel independennya yaitu bimbingan agama di Lapas walaupun dalam scope pembahasan yang berbeda. Kesamaan lainnya adalah dari segi tujuan, bahwa tesis ini dan tesis lainnya bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dan peranan bimbingan yang telah diberikan dalam membantu napi untuk menjadi pribadi yang sehat mental, dan lebih baik sekeluarnya dari penjara.
Untuk pencapaian tujuan telah dilaksanakan pengumpulan data melalui kuesioner dari responden narapidana yang terpilih sebagai sampel sebanyak 121 orang yang dipilih dengan tehnik stratified sample, 40% dari keseluruhan populasi sejumlah 303 orang. Sebagai data pendukung juga diajukan wawancara kepada Kepala BINAPI dan Kepala BIMASWAT serta 15 orang napi dari kategori kematangan emosi rendah, sedang dan tinggi.
Sebagai hasil dari penelitian ini adalah:
1. Terdapat signifikansi pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana wanita di Lapas Wanita ini sebesar 84.9%.
2. Terdapat variasi pengaruh setiap aspek bimbingan agama terhadap kematangan emosi narapidana, ditunjukkan dengan adanya t hitung yang berbeda pada setiap aspek. Bimbingan sikap dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama adalah aspek yang berpengaruh tertinggi. Bimbingan ibadah shalat fardhu adalah aspek kedua yang berpengaruh. Bimbingan ibadah shalat sunnah merupakan aspek ketiga mempengaruhi kematangan emosi. Bimbingan ibadah membaca al Qur’an merupakan aspek keempat yang mempengaruhi, bimbingan ibadah puasa adalah aspek kelima yang berpengaruh dan bimbingan kesenian yang bersifat agamis merupakan aspek terkecil yang mempengaruhi.
3. Terdapat perbedaan pemahaman dan pelaksanaan bimbingan agama antar lima kelompok responden, pada kelompok pertama mayoritas napi berada pada kategori sedang, pada kelompok kedua juga kategori sedang, di kelompok tiga mayoritas kategori tinggi, di kelompok empat mayoritas berada di kategori sedang dan kelompok terakhir mayoritas kategori tinggi.
4. Terdapat perbedaan kematangan emosi antar lima kelompok responden, pada kelompok pertama mayoritas napi berada pada kategori kematangan emosi sedang, pada kelompok kedua mayoritas kategori tinggi, di kelompok tiga mayoritas kategori tinggi, di kelompok keempat dan kelima mayoritas sedang. Masa tahanan yang cukup lama bisa membuat napi untuk menenangkan emosi dengan diberikan bimbingan agama namun bisa juga sebaliknya.
Dari penelitian ini terlihat bahwa Lapas wanita Tangerang telah menerapkan pengajaran dan bimbingan agama dengan baik sesuai yang diwajibkan dan ditugaskan pada setiap lapas.
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
DAFTAR ISI TESIS
PENGARUH BIMBINGAN AGAMA TERHADAP KEMATANGAN EMOSI NARAPIDANA WANITA DI LAPAS WANITA KELAS II A TANGERANG
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN .........................
PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………………….
ABSTRAKSI ……………………………………………………………
KATA PENGANTAR …………………………………………………..
DAFTAR ISI …………………………………………………………….
TRANSLITERASI ………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah ……………………………………
2. Identifikasi Masalah …………………………………………
3. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………..
4. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian …………………….
5. Penelitian Terdahulu …………………………………………
6. Sistematika Penulisan ……………………………………….
BAB II KAJIAN TEORI
1. Bimbingan agama
1.2. definisi bimbingan ……………………………………
1.3. definisi agama ………………………………………..
1.4. definisi bimbingan agama ……………………………
1.5. fungsi agama ………………………………………….
1.6. urgensi bimbingan agama …………………………….
1.7. pengaruh agama terhadap jiwa manusia ………………
2. Kematangan emosi
2.1. definisi emosi ………………………………………….
2.2. macam-macam emosi ………………………………….
2.3. komponen penting emosi ………………………………
2.4. fungsi emosi ……………………………………………
2.5. kematangan emosi.
2.5.1. definisi kematangan emosi …………………..
2.5.2. karakteristik kematangan emosi ……………..
2.5.3. faktor yang mempengaruhi kematangan emosi
3. Narapidana wanita
3.1. gambaran umum emosi narapidana ……………………
3.2. gambaran umum emosi wanita …………………………
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
1. Metode dan pendekatan penelitian ………………………………….
2. Definisi Operasional Variabel …………………………………
3. Hipotesa Penelitian ……………………………………………
4. Populasi dan sampel …………………………………………..
5. Teknik pengambilan sampel ……………………………………
6. Prosedur pengambilan data ……………………………………
7. Instrumen penelitian ……………………………………………
8. Analisa data ……………………………………………...........
BAB IV HASIL PENELITIAN
1. Gambaran umum subjek penelitian
1.1. Sekilas LAPAS Wanita Tangerang ……………………
1.2. Gambaran umum keadaan narapidana di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang…………
1.3. Gambaran umum responden …………………………..
2. Deskripsi hasil penelitian
2.2. Deskripsi proses pelaksanaan bimbingan agama di Lapas Kelas IIA Wanita Tangerang …………......
2.3. Deskripsi materi bimbingan agama di Lapas Kelas IIA
wanita Tangerang …………………………………….
2.4. Deskripsi tingkat kematangan emosi narapidana setelah
mendapat bimbingan bimbingan agama ………….....
2.5. Pengaruh bimbingan agama terhadap kematangan
emosi ………………..…………………………...........
3. Diskusi hasil penelitian ……………………………………..
BAB V E. PENUTUP
1. Kesimpulan ………………………………………………..
2. Saran ………………………………………………….......
3. Implikasi ………………………………………………….
LAMPIRAN
Diposting oleh miss_dzaa 1 komentar
Label: Tesis
COVER TESIS
PENGARUH BIMBINGAN AGAMA TERHADAP KEMATANGAN EMOSI NARAPIDANA WANITA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN
KELAS IIA WANITA TANGERANG
Tesis ini diajukan untuk melengkapi persyaratan
meraih gelar Magister pada konsentrasi Pendidikan Islam
Disusun Oleh:
DZAATIL HUSNI BINTI ALI
04.2.001.03.01.0019
Dibimbing Oleh:
DR. BAMBANG SURYADI
Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2008
Diposting oleh miss_dzaa 0 komentar
Label: Tesis
